Sebut saja
namaku Ayu,
Bermula sebagai mahasiswi kebidanan semester akhir, aku bekerja paruh waktu di salah satu klinik kesehatan di kota tempat aku menuntut ilmu. Aku bekerja sebagai asisten dokter yang menangani berbagai tindakan medis, dan salah satu tindakan medis tersebut adalah sirkumsisi, beberapa kali aku menjadi asisten dr Rini dalam tindakan sirkumsisi ini, hingga aku tahu, paham dan mengerti bagai mana cara sirkumsisi ini dilakukan, karena dr Rini mengajariku tentang ini.
Pada suatu
waktu klinik kami dipercaya untuk melakukan bakti sosial sunat massal yang
diselenggarakan oleh salah satu BUMN di kota kami. dr Rini memanggilku ke
ruangnya, dan beliau berkata kepadaku : “Ayu minggu depan kan aja sunat massal
tu, kamu nanti praktik ya!”
“maksud
mbak” sergapku (mbak adalah panggilan akrabku terhadap dr Rini, kerena jarak
usia kami hanya terpaut 7 tahun), “maksud mbak kamu ikut nyirkum” kata dr Rini.
“Kamu tenang aja, mbak dampingi kok, kan kamu udah beberapa kali jadi asistenku
dan tahu tentang tehnik sirkumsisi, maka kini adalah waktu yang tepat untuk
mempraktikkannya”, Kata dr Rini lagi. Aku terdiam galau sejenak, kemudian dr
Rini kembali menghardikku, “gimana mau kan”, “iii ya mbak” jawabku ragu. “lho
kok ragu gitu, yang tegas dong, kayak anak yang mau disunat aja, kamu
penyunatnya lho..” kata dr Rini kepadaku. “Ya mbak” jawabku lagi dengan sedikit
tegas. “Nah gitu dong” mengakhiri percakapan saat itu.
Jujur, ada
ketakutan dalam diriku menuju hari H, beruntung dr Rini selalu menyemangati dan
tidak pelit membagi ilmunya tentang ini kepadaku hingga aku pun yakin menuju
hari H.
Namun malam
hari sebelum hari H kegalauan itu muncul kembali, sanggupkah aku melakukannya,
bagaimana jika sang anak menangis kesakitan, bagaimana kalau si anak lari, bagai
mana kalau salah potong, dan lain-lain timbul di benakku saat itu. Tiba-tiba
ponselku berdering, aku lihat ada panggilan dari dr Rini sementara waktu sudah
menunjukkan pukul 10 malam. “Ya mbak” sahutku via ponsel. “kamu belum tidur Yu”
jawab dr Rini. Aku pun menyampaikan kegalauanku kepada beliau, dr Rini kembali
menguatkan semangatku hingga aku benar-benar yakin. Setelah ponsel ditutup
akupun lega dan bisa tidur dengan tenang
malam itu.
Pada hari H
puluk 6.00 kami berkumpul di tempat klinik dan briefing pematangan dan berdo’a
untuk kegiatan yang akan kami lakukan tersebut. dr Rini kembali menyemangatiku
hingga aku benar-benar yakin “aku bisa”. Berikutnya kami berangkat bersama ke
tempat eksekusi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami. Di lokasli
Baksos kami tiba lebih awal dan langsung mempersiapkan segala peralatan dan
perlengkapan sirkumsisi. Sesuai dengan data yang kami terima dari panitia bahwa
jumlah peserta sunat massal ini adalah 26 orang maka kami membagi menjadi 5 tim,
dan aku berada pada tim dr Rini tentunya yang ada pada meja ke-2.
Setelah
acara seremonial maka selanjutnya kegiatan sirkumsisi dimulai pada pukul 9.05
Wib. Pada pasien pertama ini langsung
ditangani oleh dr Rini dan aku bertugas sebagai asisten1. dr Rini mengerjakan
sirkumsisi sambil menjelaskan tahapan-tahapan dengan terperinci sehingga aku
lebih mudah melakukannya sendiri nantinya. Berikutnya tiba giliran pasien
kedua, untuk pasien kedua ini pun tetap diambil oleh dr Rini. “Ayu pasien yang
ketiga kamu ambil ya” kata dr Rini kepadaku. “Ya Dok” kataku walau sedikit
tergagap. Jujur jantungku sedikit berdesir saat menanggapi perintah dr Rini
ini, dan saat nama Adit sebagai pasien ke-3 tersebut dipanggil, dr Rini kembali
menyakinkanku bahwa aku pasti bisa karena dia akan mendampingiku sampai
selesai, dan ini yang membuat aku tenang.
Si Adit pun naik ke meja eksekusi dan akupun mulai melakukan pendekatan
personal kepadanya dengan menanyakan nama, sekolah dimana, kelas berapa dan
tentunya mendongkrak keberaniannya dengan mengatakan bahwa sunat itu tidak
sakit.
Setelah
yakin saya minta persetujuannya untuk membuka celananya, tanpa menunggu lama
ternyata Adit membolehkan aku membuka celananya. Dan begitu celananya dibuka
terlihat penis kecilnya sudah ereksi. Akupun memeriksa kondisi penis tersebut
dan memastikan preputium alias kulup yang akan dipotong sudah bebas dari glan
(kulup tidak lengket dengan kepala penisnya)
Selanjutnya
aku pun mengolesi semua bagian penis yang meliputi buah zakar, batang penis,
kulup, glan (kepala penis yang ada di dalam kulup yang belum dipotong), dan
pangkal penis dengan antiseptic (betadine). Kegalauan itu kembali menghampiri
tatkala dr Rini menyerahkan jarum suntik yang sudah dalam posisi terhunus siap
ditancapkan kesasaran. “Ayu, silakan di injeksi dulu biar si Adek gak sakit
ya..” kata dr Rini menyemangatiku, akupun mulai dapat menguasai keadaan. “Adit,
tahan sedikit ya kalau ada semut yang gigit” kataku menyemangati pasienku,
karena belum ada respons, aku mengulanginya sekali lagi, “Adit, tahan sedikit ya kalau ada semut yang
gigit” kataku lagi.. “Ya kak” jawab Adit yang sekaligus mendongkrak semangatku.
Sementara
dr Rini terus mengajak Adit berkomunukasi, Dengan “Bismillah” jarum suntikku
aku tancapkan menembus kulit yang ada di atas tulang kemaluannya. Tentu saja
Adit tersentak saat jarum suntik
tersebut menembus kulitnya, sementara dr.Rini terus mengalihkan perhatiannya
dengan cara terus berkomunikasi. Dengan perlahan aku melepaskan lidocain (obat
anestesi) yang ada di dalam jarum suntik tersebut sesuai dengan dosis yang
sudah ditentukan. Selanjutnya aku melanjutkan anestesi di sekitar area yang
akan di insisi (potong/sunat). Penis Adit yang tadinya ereksi dengan gagah
mulai kendor dan perlahan menyerah lunglai, selanjutnya aku pun mengurut penis
tersebut dengan tujuan untuk meratakan obat anestesi yang masuk tersebut.
Selanjutnya
aku membuka glan dengan menarik preputium (kulup) ke belakang sehingga kepala
penisnya benar-benar terbuka untuk membersihkan kotoran yang ada di sekitar
glan tersebut. Setelah dipastikan semua kotoran telah dibersihkan aku klem dengan dua
penjepit ujung kemaluannya dan menariknya sehingga didapat kondisi yang
pas, akupun menambah sebuah klem lagi yang aku jepitkan di batas bakal insisi.
“Yu pastikan klem yang satu ada di bagian bawah dan tidak menjepit glannya ya…”
kata dr Rini memastikan pekerjaanku. “Ya dok” kataku. Setelah tiga klem
terpasang dengan rapi (menurutku), aku melakukan tes rasa terlebih dahulu,
“Kalau sakit bilang ya Dit” kataku kepada Adit, “Ya.. kak” jawab Adit. Aku
mencoba cubitan ringan terhadap penis Adit sambil berkata “sakit Dit”, “tidak
kak” jawab Adit. Setelah memastikan bahwa penis Adit telah mati rasa langkah
berikutnya adalah insisi yaitu tindakan mengiris atau dalam hal ini memotong
kulup. Kegalauan kembali menghampiriku, karena aku akan memotong bagian tubuh
seorang manusia. Tiba-tiba “Ayo langsung di insisi aja Yu…” kata dr Rini
memecah suasana galauku. “Ya dok” jawabku, “ajak Adit berkomunikasi lagi biar
kamu bisa relax “ kata dr Rini menyemangatiku.
Akupun
kembali mengajak Adit berkomunikasi dan meminta Adit untuk membaca surat-surat
pendek. Saat Adit mebaca surat pendek kembali dr Riri memintaku untuk segera
melakukan insisi, “ayo lanjut insisi Yu” kata dr Rini, “Ya dok” sahutku. Dan
dengan membaca Basmalla, aku raih gunting pemotong dan krek krek krek kulup
Adit terpotong dan terlepas dari penisnya. Wow aku berhasil kataku dalam hati.
Pekerjaan ini semakin ringan karena bagian insisi menunjukkan pekerjaan ini
telah 70%”. Sementara itu Adit tetap saya perintahkan untuk membaca semua surat
pendek yang dia tahu. Langkah berikutnya adalah membuka satu klem lagi yang
membatasi insisi tersebut. Dengan perlahan aku membuka jepitan klem tersebut,
walaupun klem penjepit telah terlepas, namun glan masih tertutupi dengan sisa
kulup karena kuatnya jepitan klem tadi.
Berikutnya
adalah bagian yang paling suka dari pekerjaan ini yaitu menarik sisa kulup ke
bagian belakang dan dengan pelan tapi
pasti glan penis terbuka secara perlahan dan sejak saat itu ia tidak akan
pernah tertutup lagi, dan sesungguhnya sirkumsisi ini akan menghasilkan bentuk
seperti inilah.
Langkah
berikutnya adalah menjahit luka insisi tersebut dan membalutnya dengan perban
sebagai akhir pekerjaan ini. Berikutnya tinggal memberitahu Adit bahwa sunatnya
sudah selesai. Dengan percaya diri aku memberitahu Adit. “Adit, sunatnya sudah
selesai, gak sakitkan Dit.” Kataku kepada Adit. Mendengar perkataanku tadi Adit
pun langsung bangun dan langsung melihat penisnya, sambil tersenyum ia melempar
senyum kepada kami, sekali lagi aku berkata kepada Adit “Sunatnya gak sakit kan
Dit, paling seperti digigit semutkan.. benarkan kata kakak, semutnya Cuma 5
kan..” kataku memecah suasana sekaligus disambut ketawa oleh semua tim kami…
Aditpun
berlalu sambil berjalan ngengkang, aku merasa sangat lega, dan dr. Rini
menghampiriku sambil berkata “Pekerjaan kamu bagus Yu, malah lebih bagus dari
saya, Good Job”, “terimakasih Dok” sahutku menerima pujian itu yang sungguh
membuatku tersanjung. “Habis ini sekali lagi ya…” kata dr Rini kepadaku. Untuk
kali ini aku bisa jawab dengan tenang “Ya dok…”
Pasien yang
ke-4 ini diambil dan dikerjakan langsung oleh dr Rini sementara aku kembali
menjadi asisten beliau. Setelah pasien ke-4 selesai maka selanjutnya giliran
pasien ke-5 dan aku kembali diserahi tugas ini, Alhamdulillah pasien ini sama
kooperatifnya dengan Adit sehingga aku dapat menyelesaikan tugas ini dengan
baik pula.
Dan setelah
semua tim selesai melaksanakan tugasnya, terlihat 2 orang calon perserta sunat
yang masih dinego oleh ortu/keluarganya dan tim medis untuk mau di eksekusi,
karena takut di sunat. Jujur aku geli melihat mereka yang takut disunat,
terlebih aku mendapat info dari panitia bahwa 2 orang calon peserta lain tidak
datang (mungkin karena takut he..he..) dan 1 orang calon peserta lagi lari
minggat saat celananya dibuka…lari tanpa pake celana kata panitia sambil ketawa
mencairkan suasana. “Yu… coba kamu bujuk deh salah satu dari mereka dan
langsung kamu yang sirkumnya ya…” pinta dr Rini kepadaku yang lagi tersenyum
mendengar info panitia tersebut. “Ya
dok” sahutku. Aku pun menghampiri salah satu dari mereka..
“Halo
adek.. namanya siapa?” usahaku menjalin berkomunikasi salah satu dari mereka.
Walau tidak ada respon aku tetap berusaha membangun komunikasi (la iya la orang
yang lagi takut disunat diajak ngobrol…), “sini deh sama kakak” kataku ku
kepada calon pasien tersebut sambil mengirim kode agar yang lain membiarkan
kami berdua berkomunikasi. “nama adek siapa?” tanyaku lagi, “adek gak usah
takut kakak ini orang baik kok” kataku lagi, “adek takut ya…” kataku lagi
melontar pertanyaan yang kali ini di jawab dengan anggukan. “oh gitu” respon ku
sigap, “sunat itu gak sakit kok, buktinya teman-teman adek pada sudah disunat
tuh..paling rasanya seperti digigit semut aja, itu juga sebentar” usahaku
menyakinkan si Adek. “Adek pernah digigit semutkan?” kataku lagi, yang kali ini
kembali dijawab dengan anggukan. “Nah gak sakitkan”usahaku lagi menyambung
komunikasi. “tapi gatal” nah ini adalah kata respon pertama yang keluar dari
mulut si Adek yang belum aku tahu namanya. “Nah kalau begitu biar kakak aja
yang nyunat adek ya, nanti kalo gatal kakak garuk, mau ya?” penawaranku kepada
si Adek. “Oke sekarang nama adek siapa” tanyaku lebih akrab. “Dion Kak” kata di
Adek. “Oh namanya Dion… nama kakak Ayu, kalau begitu Dion maukan kalo kak Ayu
sunat?” tanyaku kepada Dion, “tapi gak sakitkan kak” jawab Dion sedikit ragu,
“enggak kok, paling hanya seperti gigit semut aja, kak Ayu gak akan nyakiti
Dion kok” jawabku menyakinkannya. “Oke sekarang Dion ikut kak Ayu ya” kataku
sambil menuntunnya ke meja eksekusi.
Dan dengan
sigap aku kembali menyakin Dion bahwa aku tidak akan menyakitinya. “Dion yakin kan
sama kak Ayu” kataku kepada Dion, kali
ini kembali di jawab dengan anggukan pertanda ada sedikit kegalauan di dirinya.
“Dion gak usah takut kok, kak Ayu kan udah janji gak akan bikin Dion Sakit,
palingan terasa digigit semut aja, habis itu selesai, gimana?” caraku
menyakinkan Dion. “Boleh kak Ayu buka celananya” pintaku pada Dion, “Ya kak”
jawab Dion sebagai respon yang baik untuk memulai. Perlahan aku buka kancing
celana si Dion, sambil terus berkomunikasi aku buka resleting dan melepas celananya,
dan memberikan celana tersebut kepada sang ibu yang mulai mendekat.
Untuk
pasienku yang ke-3 ini aku tidak gugup atau galau lagi, namun ada sedikit
perbedaan dengan sirkum yang sebelumnya bahwa baru kali ini aku melihat penis
peserta sirkum yang tidak ereksi, dalam hati aku cuma berguman mungkin karena
takut, penis jadi enggan ereksi.
Karena
responnya yang baik aku memintanya untuk naik sendiri ke meja eksekusi dan
alhamdulillah ia naik dengan sendirinya. Melihat Dion naik ke meja eksekusi, dr
Rini pun mendekat sambil menyapa Dion dengan Ramah, “Namanya Dion ya…tenang gak
sakit kok apa lagi sama ka Ayu, kak Ayu ini jago kok, gak akan bikin Dion sakit
kok, pokoknya Dion percaya aja sama kak Ayu ya..” kata dr Rini mencoba
menyakinkan Dion. Dan selama eksekusi berlangsung Aku dan dr Rini berusaha
berkomunikasi tanpa putus mengingat si pasien ini sebenarnya takut untuk
menjalani prosesi ini.
Langkah
pertama aku mengolesi semua bagian penis yang meliputi buah zakar, batang
penis, kulup, dan pangkal penis dengan antiseptic (betadine). Namun disini Dion
coba bangkit melihat ke arah penisnya, tapi dengan cepat aku katakana “Dion
tenang aja, kak Ayu Cuma olesi dengan betadien biar kuman bakterinya mati kok,
lagian gak sakitkan…” kataku kepada Dion, “Ya kak” sahut Dion. “sekarang coba
Dion baca surat pendek aja biar gak bete, dan biarkan kak Ayu bersihin tititnya
ya..” kataku lagi kepada Dion. Rupanya secara perlahan penis Dion mulai
mengeras dan secara cepat tegak dengan sempurnanya. dr Rini menyerahkan jarum suntik yang sudah terisi lidocain siap ditancapkan. “Dion tahan dikit
ya kalo ada seperti gigitan semut” kataku kepada Dion, “Ya kak” kata Dion. Dengan
“Bismillah” jarum suntik aku tancapkan menembus kulit yang ada di atas tulang
kemaluannya. Dion tersentak saat jarum
suntik tersebut menembus kulitnya. Dengan perlahan aku melepaskan lidocain
(obat anestesi) yang ada di dalam jarum suntik tersebut sesuai dengan dosis
yang sudah ditentukan. “Dion tenang ya, biar gak sakit kak Ayu olesin betadien
lagi nanti ya..” kataku menyakinkan Dion. “pokoknya habis ini kak Ayu pastikan
gak sakit lagi kok” kataku sekali lagi menyakinkan Dion.
Selanjutnya
aku melanjutkan anestesi di sekitar area preputium (kulup) yang akan di potong.
Kini penis
Dion yang tadinya ereksi mulai kendor dan perlahan lunglai, selanjutnya aku pun
mengurut penis tersebut dengan tujuan untuk meratakan obat anestesi yang masuk
tersebut.
Tiba-tiba
Dion kembali mencoba bangkit, aku segera merespon “Dion Kenapa“ tanya ku kepada
Dion, “Aku Cuma mau lihat tititku sebelum disunat kak” kata Dion kepada ku, “Oh
begitu, kalo cuma mau lihat aja boleh kok..tapi janji dulu ya cuma lihat kan, maksud
kak Ayu Dion gak boleh pegang lagi karena titit Dion sekarang bebas kuman lho”
kata ku mencoba bernegosiasi, “sebentar ya..” kata ku sambil menyembunyikan peralatan
medis yang jika terlihat oleh Dion bisa memicu ketakutannya kembali. “Ok
silakan dilihat” kataku mempersilahan Dion melihat penisnya sebelum dipotong.
Dion
bangkit dan duduk sambil menatap sang penis…”Kak sunat itu titit aku di apakan
kak” Tanya Dion, dalam hati aku berguman kok Dion bertanya seperti itu, gak
mungkin aku bilang dengan jujur bahwa tititmu akan aku potong. Namun dr Rini
cepat merespon ”Dion tenang aja titit Dion Cuma dibersihkan sama kak Ayu dan
nanti kepala tititnya akan keluar dan tidak tertutup lagi” jawab dr Rini sambil
menarik kulup Dion ke belakang dan mengeluarkan glan penisnya keluar dari kulit
penulup (kulup)nya, “coba Dion lihat orang yang sudah sunat tititnya pasti
seperti ini” kata dr Rini lagi, “jadi enggak dipotong ya kak…” kata Dion lagi,
“Ya enggak lah Cuma dibersihin dan diinsisi aja, iya kan kak Ayu” kata dr.Rini
lagi, “Ya dong” sahutku, dalam hati aku berguman dalam hati “Dion kamu di
bohongi insisi itu artinya iris, dan iris berarti potong ha.ha.ha” Akupun
memerintahkan Dion untuk kembali rebahan. “Nah sekarang kamu tiduran aja, biar
kak Ayu bersihkan lagi titit kamu dan biar cepat selesai, Oke” perintahku
kepada Dion. “Oke” balas Dion, sambil rebahan kembali.
Untuk
mencairkan suasana aku meminta Adit untuk membaca surat-surat pendek, Selanjutnya
aku membuka glan dengan menarik preputium (kulup) kebelakang sehingga kepala
penisnya benar-benar terbuka dan diteruskan dengan membersihkan kotoran yang
ada di sekitar glan tersebut. Setelah dipastikan semua kotoran telah
dibersihkan aku klem dengan dua penjepit
ujung kulup Dion dengan cepat , aku pun menambah sebuah klem lagi yang aku
jepitkan di batas bakal insisi, setelah memastikan glan berada di bagian dalam
klem, akupun bersiap untuk melakukan insisi.
Setelah
tiga klem terpasang dengan baik dan rapi aku melakukan tes rasa terlebih
dahulu, “Kalau sakit bilang ya Dek” kataku kepada Dion, “Ya.. kak” jawab Dion.
Aku mencoba cubitan ringan terhadap penis Dion sambil berkata “sakit Dek”,
“tidak kak” jawab Dion. Setelah memastikan bahwa penis Dion telah mati rasa
langkah berikutnya adalah pemotong kulup. Dengan percaya diri dan membaca Basmalla, aku gunting kulup Dion
dengan 3 kali hentakan hingga kulup Dion terpotong dan terlepas dari penisnya dan
masih dalam jepitan 2 klem yang menjepitnya potongan kulup tersebut segera
disembunyikan agar tidak terlihat oleh Dion.
Langkah
berikutnya adalah membuka satu klem lagi yang membatasi insisi tersebut. Dengan
perlahan aku membuka jepitan klem tersebut, walaupun klem penjepit telah
terlepas, namun glan masih tertutupi dengan sisa kulup karena kuatnya jepitan
klem tadi.
Berikutnya
adalah bagian unik yang paling suka dari pekerjaan ini yaitu menarik sisa kulup
ke bagian belakang (pangkal penis) dan secara
pelan tapi pasti glan penis muncul secara
perlahan dan tidak akan pernah tertutup lagi, dan ini adalah bentuk penis
laki-laki seharusnya.
Langkah
berikutnya adalah menjahit luka insisi tersebut dan membalutnya dengan perban
sebagai akhir pekerjaan ini. Berikutnya tinggal memberitahu Dion bahwa sunatnya
sudah selesai
Dengan
percaya diri aku memberitahu Dion. “Dion, sekarang sunatnya sudah selesai, gak
sakitkan dek.” Kataku kepada Dion, sekali lagi aku berkata kepada Dion
“Sunatnya gak sakit kan, paling seperti digigit semutkan, itu aja kok takut”
kataku menyemangati Dion.
Dion pun
berlalu, aku merasa sangat lega, dan semua tim menghampiriku sambil berkata
“Good Job”, “terimakasih dok” sahutku menerima pujian itu yang sungguh
membuatku tersanjung. Sementara seorang yang tadinya takut disunat bareng Dion
ternyata gagal dieksekusi karena gak ada yang berhasil membujuknya. Akhirnya
aku dijuluki Ayu TSB (Ayu Tukang Sunat
Baru)… lucu juga julukan itu..
Satu bulan
kemudian,
Minggu malam saat aku sedang mengerjakan Tugas Akhir untuk menjadi seorang Bidan, aku mendapat telpon dari dr Rini. “Halo” sapa dr Rini di ponselku, “Ya mbak” sahutku. “Besok pagi bisa ke kantor ya, ada pelajaran baru buat kamu sekaligus mbak perlu bantuanmu” balas dr Rini, “Ok mbak” jawabku, dr.Rini langsung menutup telponnya.
Minggu malam saat aku sedang mengerjakan Tugas Akhir untuk menjadi seorang Bidan, aku mendapat telpon dari dr Rini. “Halo” sapa dr Rini di ponselku, “Ya mbak” sahutku. “Besok pagi bisa ke kantor ya, ada pelajaran baru buat kamu sekaligus mbak perlu bantuanmu” balas dr Rini, “Ok mbak” jawabku, dr.Rini langsung menutup telponnya.
Keesokan
harinya, akupun pergi menemui dr.Rini di Ruangnya. “Assalamu’alaikum” sapaku
sambil mengetuk pintu ruang kerja dr.Rini. “Wa’alaikumsalam” jawab dr.Rini.
“Duduk Yu…” kata dr.Rini Mempersilahkan aku duduk di depannya. Dokter Rini pun
memulai pembicaraan, “gini Yu, mbak butuh bantuanmu untuk jadi asisten
siskumsisi habis zuhur besok lusa, bisa kan Yu” kata dr.Rini kepadaku, “bisa
mbak, tapi kenapa mesti habis zuhur mbak” tanyaku. “Ya, inilah uniknya sirkum
kali ini Yu..calon pasien kita ini adalah anak teman ibuku yang udah
berkali-kali gagal sirkum karena lari dan minggat saat mau disunat dan
merupakan anak laki-laki satu-satunya dan bungsu dari 3 bersaudara” cerita
dr.Rini kepadaku lagi, “karena besok Kamis hari libur maka tante Dewi memintaku
untuk dapat menyunat anaknya dihari Rabu sehabis anaknya menuntaskan
kegiatannya” kata dr.Rini menambahkan ceritanya. “Namun yang jadi uniknya
sirkum kali ini adalah bahwa sang anak sekarang sudah kuliah semester ke-2” cerita
dr.Rini lagi. “ha, gimana mbak” sahutku reflek. “Ya, yang akan kita sirkum kali
ini adalah laki-laki dewasa Yu..” kata dr.Rini lagi.
“Perlu
penanganan berbeda untuk melakukan sirkum laki-laki dewasa Yu..dan itu yang
akan mbak ajarkan kepada mu,
Pertama,
dari segi ukuran penis dewasa akan jauh lebih besar dari penis anak-anak yang
selama ini kamu tangani.
Kedua penis
laki-laki dewasa lebih mudah terangsang, dan jika salah penanganan mereka bisa
ejakulasi atau orgasme lho” kata dr.Rini
lagi. “Ya, mbak” jawabku singkat. “Laki-laki itu bisa terangsang hanya dengan
melihat wanita, apalagi wanita itu cantik seperti kita” kata dr.Rini lagi
sambil tersenyum. “Hal itu berbanding terbalik dengan kita para wanita hanya bisa
terangsang jika disentuh, tapi ini bukanlah merupakan kekurangan bagi kita
perempuan karena kita bisa orgasme berulang, sementara laki-laki tidak, mereka
hanya bisa orgasme 1x dalam sekali ereksi, dan setiap sekali kali orgasme penis
akan lemas dan tidak mungkin orgasme lagi di saat demikian.
Ketiga
tehnik insisinya pun berbeda karena susunan syaraf penis dewasa telah terbentuk
dengan sempurna, dan sekarang saya akan bahas masalah sirkum dewasa ini kepada
mu Ayu, kamu siapkan.” kata dr.Rini kepadaku, “Ok aku siap mbak” kataku lagi.
dr.Rini pun menjelaskan prosedur dan teknik sirkumsisi dewasa ini kepadaku dari
awal hingga akhir yang akan aku ceritakan pada saat waktu eksekusi nanti. “Ok
untuk lebih lengkapnya silakan kamu cari info lainnya lewat buku di perpus atau
mbah google dan youtube, kamu juga bisa tanya saya, tak usah malu bertanya
apalagi ini menyangkut soal kemaluan” kata dr.Rini lagi. “Ya mbak aku permisi
dulu” kataku mengakhiri percakapan.
Beranjak
meninggalkan ruang kerja tersebut, aku menuju ruang perpus di kampusku, jujur
ada keinginan yang kuat untuk mencari tahu tentang siskum dewasa ini, aku
mencari info di beberapa buku namun aku tidak menemui yang khusus membahas
tentang sirkumsisi dewasa, yang ada adalah bahasan tentang sirkumsisi secara
global, mungkin perpus kampus ku yang tidak lengkap.
Lewat
internet aku bisa dapatkan info yang aku maksud lengkap dengan gambar videonya,
dan menurutku tidak terlalu banyak perbedaan antara sirkum dewasa dan belum
dewasa kecuali untuk beberapa hal, dan hal ini wajar menurutku karena dari segi
fisiknya memang keduanya berbeda.
Pada hari
Rabu yang telah disepakati, aku dan dr.Rini tiba di rumah tante Dewi 1 jam
lebih awal (sebelum zuhur), dr.Rini memperkenalkan aku sebagai asisten yang
akan membantunya nyirkum. Mereka pun terlibat percakapan akrab, dan dari
percakapan itu aku tahu bahwa nama calon pasien kami kali ini adalah Erik.
Sebelum eksekusi kami di jamu makan siang terlebih dahulu oleh tante Dewi, biar
kami bisa konsentrasi mengerjakan sirkum anaknya katanya kepada kami.
Setelah
makan siang, kami pun mulai mengatur rencana dan skenario, peralatan dan
perlengkapan sirkum aku siapkan dengan baik, sehingga saat akan digunakan akan
lebih cepat tersedia, mengingat latar belakang calon pasien kami yang pernah
beberapa kali gagal sirkum maka dr.Rini menerapkan tehnik cepat dan sigap.
Setelah
beberapa saat kami menunggu, terdengarlah suara motor khas laki-laki masuk ke
garasi rumah tante Dewi, dan “Assalammu’alaikum” sapa Erik masuk ke dalam
rumahnya, “Wa’alaikumsalam” kata kami bersamaan dari ruang keluarga yang ada
pada bagian belakang rumah mereka. “Rik, sini Rik” panggil tante Dewi kepada
Erik untuk bergabung dengan kami. “Ya.. ma” balas Erik, “sini duduk sini” tante
Dewi mempersilakan Erik duduk dekatnya. “Ma .. mana kejutan buat Erik” tagih
Erik kepada mamanya yang memang
menjanjikan akan ada kejutan buatnya. “Yan nanti, kenalin dulu dong ini kak
Rini, anak tante Sri yang di jalan Beo, kamu ingat gak” kata Tante kepada Erik.
“lho ini Erik, yang dulu takut disunat ya Tante”, serobot dr.Rini. Sementara
Erik kaget karena rahasianya ketahuan, dr.Rini pun kembali menimpali “tapi sekarang sudah sunat kan Rik”, “Belum”
serobot tante Dewi pula. “ha…kamu belum sunat Rik”, Tanya dr.Rini kepada Erik
tajam, Erik tersenyum tanpa menjawab.
“Kalo sunat
sama kak Rini mau?” serang dr.Rini lagi. “Mau” jawab tante Dewi, “lho kok mama
yang jawab”, protes Erik kepada mamanya. “Rik, kenapa kamu gak mau disunat,
kamu takut ya…masa Erik yang gagah kayak gini ternyata takut disunat” hardik
dr.Rini kepada Erik.
“Ya..nanti
mama bilangi Putri lho, kalo pacarnya belum disunat” ancam mama kepada Erik,
“jangan ma…”, renget Erik. “Masa udah punya pacar tapi takut eh belum disunat,
Rik”, kata dr.Rini lagi.
“Kamu mau
ya sunat sama kak Rini ya… , kak Rini ini dokter lho” kata tante Dewi sedikit
berpromosi. “Ya, Rik, kakak dokter, kakak udah biasa nyunat kok, kamu gak usah
malu atau takut, pokoknya aman kok, dan yang paling penting rahasia
terjamin…gimana?”, kata dr.Rini lagi.
“kamu mau
kan Rik..”, pinta sang mama kepada Erik, sementara Erik terdiam, dr.Rini coba
mengambil alih kendali, “Rik, sini kamu maju sama kakak!..... ayo maju sini
Rik”, perintah dr.Rini lagi kepada Erik, “ayo Rik” tante Dewi pun ikut memberi
semangat.
Erik pun
maju ke depan dr.Rini, “maju lagi Rik”, perintah dr.Rini lagi, Erik pun maju
mendekat dr.Rini yang kini berjarak begitu dekat berada dalam jangkauan sang dokter.
“Sekarang
kamu lihat ke atas, lihat bohlam yang lagi menyala yang ada plafon itu”
instruksi dr.Rini lagi kepada Erik, yang diikuti oleh Erik. “Nah sekarang kamu
buka ya semua celana kamu, dan kamu harus terus lihat ke bohlam itu dan jangan
lihat ke bawah lagi ya…”, kata dr.Rini lagi kepada Erik, sementara aku dengan
cepat membuka dan mempersiapkan semua peralatan yang tadi sudah aku siapkan.
Dan begitu
Erik melepas semua celananya, terpampanglah sebuah penis dalam ukuran jumbo
yang baru pertama kali ini aku lihat secara langsung, sungguh berbeda dengan
penis-penis kecil yang selama ini aku tangani. Kondisi penis yang tegak dengan
sempurna ditambah lagi dengan hiasan bulu hitamnya yang begitu lebat menambah
gagah sang penis, jujur ini membuat aku terpesona, apalagi ia kini ada dalam
jangkauanku, namun ada sedikit hal yang menurutku mengganggu adalah aroma tak
sedap yang berasal dari si penis.
Tiba-tiba
“siapkan lidocain Yu…”, perintah dr.Rini memecah konsentrasiku. “Ya..dok”
kataku sambil mengambil dan menyerahkan jarum suntik yang terisi lidocain (obat
anestesi), “Rik, tahan dikit ya..” kata dr.Rini kepada Erik.
Dengan
“Bismillah” dr.Rini menancapkan jarum suntik yang berisi lidocain menembus
kulit yang ada di atas tulang kemaluan Erik. Erik tersentak saat jarum suntik tersebut menembus bagian
penisnya, setelah sebagian lidocain berhasil dimasukkan di area tersebut,
dr.Rini meminta spidol dan menyerahkan
jarum suntik yang tadi isinya telah dipakai sebagian kepadaku dan dengan dengan
cepat menggambar garis lingkaran di area glan penis Erik yang merupakan garis
bakal insisi nantinya, Berikutnya dr.Rini kembali meraih jarum suntik yang ada
ditanganku sekaligus kembali menyuntikkannya ke beberapa area garis gambar pada
penis Erik.
“Yu, coba
kamu ratakan lidocainnya ya…”, perintah dr.Rini kepadaku. Waw, ini adalah
pertama kalinya aku memegang penis dewasa, akupun dengan percaya diri memegang,
meremas dan mengurut halus penis Erik yang kini mulai kendor sampai benar benar
lunglai sebagai pertanda bius berjalan dengan baik.
dr.Rini
kembali mengambil alih kendali dengan langsung memegang dan memeriksa kondisi
penis Erik, beliau menarik kebelakang preputium sehingga glan menjadi terbuka,
disini terlihat kondisi glan dipenuhi oleh smegma berwarna putih keju yang
menempel seputaran pangkal kepala penis yang jika tidak ditarik ke belakang
tadi tidak tampak. “Rik, coba deh kamu lihat ke sini”, perintah dr.Rini kepada
Erik agar melihat penisnya, Erik pun melihat ke arah sang penis yang dalam
kondisi glannya terbuka. “Penis kamu kotor sekali, bagaimana kamu merawatnya
jika seperti ini” kata dr.Rini lagi. “ini adalah sumber penyakit lho, jika
sekarang kamu pakai berhubungan intim, kuman dan bakteri yang ada ini akan
pindah dan berkembang, dan menjadi penyakit di partner seksualmu, ya emang kamu
gak akan kena sakit itu, karena dalam jumlah tertentu dia jinak di penismu,
tapi fatal bagi kami perempuan karena pada saat hubungan seksual penis akan
masuk dan terbenam 100% kedalam vagina, dan saat penis berada di dalam tersebut
sang kuman dan bakteri berpindah dan tinggal serta berkembang di dalam vagina”,
ulas dr.Rini kepada Erik
“Sekarang
kamu cuci dulu penismu sampai bersih ya…eh..tapi jangan minggat lagi ya…”
perintah sekaligus canda dr.Rini kepada Erik. Erik pun pergi ke kamar mandi
untuk membersihkan penisnya, sementara itu kami segera mempersiapkan tempat
pemotongan yaitu bertempat di kamar di Erik sendiri yang berada bagian terdepan
rumah mereka, kami pun memeriksa semua peralatan dan menempatkannya diposisi
yang tepat tentunya dan kini semuanya
sudah tidak disembunyikan lagi seperti di ruang keluarga tadi.
Karena
terasa agak lama, dr.Rini meminta tante Dewi untuk memanggil Erik untuk segera
masuk ke kamarnya dimana kami berada untuk eksekusi tentunya. “Bentar lagi
Rin”, kata tante kepada kami. “Tapi benaran masih di kamar mandi kan Tan…enggak
lari lagi kan Tan!”, kata dr.Rini lagi. “tante rasa tidak, tadikan Tante ancam
beritahu pacarnya kalo gak mau”, kata Tante lagi. Sementara ponsel Erik yang
ada dalam saku celana yang tadinya dilepas dari tadi bergetar pertanda ada yang
menghubunginya, penasaran tante Dewi pun melihat ponsel tersebut, dan Tante
memberitahu kami bahwa yang menghubungi ponsel tersebut adalah Putri, pacarnya
Erik, “gak mungkin dong jika Tante angkat dan bilang sebentar ya Put, Eriknya
lagi disunat”, kata Tante sambil ketawa, padahal yang diketawainya itu adalah
anaknya sendiri lho. Ha.ha.ha, akhirnya ponsel tersebut diam dengan sendirinya.
Tidak
berapa lama kemudian Erik pun masuk mendatangi kami di kamarnya, sambil
mengenakan handuk sebagai penutup. “kirain kamu melarikan diri lagi Rik, habis
kamu lama sekali di kamar mandi itu”, canda dr.Rini sambil tersenyum kepada
Erik. “Oke sekarang kamu rebahan deh, silakan pilih posisi yang bikin kamu
nyaman, biar kakak yang menyesuaikan”, kata dr.Rini kepada Erik. Kamar yang
luas dan ranjang berkasur yang tidak tertalu besar membuat kami nyaman dalam
bekerja nantinya.
Setelah posisi
didapati maka dr.Rini memintah Erik untuk membuka handuk yang menutupi area
kelaminnya. “Buka dong handuknya”, perintah dr.Rini kepada Erik. Setelah handuk
dilepas terlihat penis Erik sekarang sudah bersih dan klimis dari rambut hitam
yang tadi terlihat lebat. “O.. tadi kamu cukur rambut kemaluanmu ya Rik,
pantesan lama”, kata dr.Rini.
Berikutnya
dr.Rini kembali menarik kulup ke pangkal penisnya untuk memeriksa kebersihan
glan dari smegma atau kotoran yang tadi kami jumpai. “Nah, ini baru bersih,
tapi jangan salah walaupun terlihat bersih kuman itu tidak terlihat lho,
makanya saya sarankan agar semua lelaki itu
bersunat, biar tambah yakin” kata dr. Rini lagi. “Oke. Rik, kamu siap
untuk sunat?” kata dr.Rini lagi, “Ya kak” kata Erik singkat.
“Yu,
tambahkan lidocain lagi ya, soalnya tadi udah kelamaan, nanti keburu habis
efeknya, bisa menjerit pasien kita ini dan benaran lari lagi he. he. he.” Kata dr.Rini kepadaku. Aku pun
menyerahkan jarum suntik yang tadi masih
berisi sisa lidocain kepada dr.Rini. Dan dr.Rini pun kembali menyuntikan ke
beberapa area penis Erik yang kini masih terkulai lemas menyerahkan diri untuk
dipotong. “Yu, kamu ratakan kembali lidocainnya ya…”, perintah dr.Rini
kepadaku. Kali ini penis Erik terasara begitu lunak sehingga membuatku harus
menggunakan kedua tanganku untuk meratakan lidocain tersebut. Sementara dr.Rini
menerima telepon, entah dari siapa, aku gunakan untuk mengamati dan mengeksplor langsung penis dewasa ini,
karena itu adalah pengalaman pertamaku langsung dengan penis dewasa, beberapa
kali aku buka dan tutup sang glan, sampai akhirnya aku di kaget kan oleh sapaan
dr.Rini, “Sudah Yu..”, kata dr.Rini “Ya, sudah dok..” balasku.
“Oke, ambil
klem dua buah ya..”, perintah dr.Rini. Selanjutnya dr.Rini menjepit ujung kulup
Erik dengan dua klem penjepit yang aku berikan tadi.
Tiba-tiba
terdengar salam “Assalamu’alaikum” dari luar, kami pun menjawab secara pelan “Wa’alaikumsalam” namun kami tidak
terlalu menghiraukan keberadaan tamu tersebut karena itu urusan tante Dewi yang
saat ini sedang tidak bersama kami. “Nah, Yu..untuk sirkum dewasa tidak sama
seperti sirkum anak-anak, klem yang kita gunakan cukup 2 aja, yang kita gunakan
untuk menjepit ujung preputium berikutnya kita insisi dari depan ke dalam”,
kata dr.Rini mengajariku.
Tiba-tiba
salam “Assalamu’alaikum” kembali terdengar kuat, ternyata seorang perempuan
sudah masuk ke dalam kamar eksekusi. “Lho kamu sunat, Rik.. jadi selama ini
kamu belum sunat, kamu ini ada-ada saja, pantesan tadi telponku gak kamu angkat”
kata perempuan tadi. “ha….Putri” kata Erik kaget karena kedatangan perempuan
yang ternyata bernama Putri, “O.. kamu pacarnya Erik ya…” sapa dr.Rini kepada
Putri, “Ya.. mbak”, kata Putri singkat. “Erik ini emang belum di sunat, tapi
sekarang lagi kakak bantu sunat, nah kamu tunggu di luar aja ya!”, perintah
dr.Rini kepada Putri. “Enggak akh kak, aku pengen liat boleh kan”, rayu Putri kepada
kami, “jangan dong, ntar Eriknya malu”, kata dr.Rini lagi.
“Boleh ya
Rik, ntar teman kampus tahu lho kalo kamu sunat” ancam Putri kepada Erik, “Ya. dech, tapi
janji rahasia ya…” tawar Erik mengizinkan Putri melihat prosesi sunatnya. “Oke,
kalau begitu kamu boleh lihat tapi jangan ganggu ya..”, kata dr.Rini kepada
Putri. “Ya. Dok”, balas Putri.
“Ayo Yu,
kita teruskan”, kata dr.Rini kepada ku. “Ya. Dok”, balasku lagi. Tiba-tiba
putri berkata: “Dok, sunat itu yang dipotong
apanya penis”. Mendapat pertanyaan itu dr.Rini Diam sejenak sambil
menatap Putri yang bertanya, dan kemudian melepas kedua klem penjepit preputium
Erik.
“Oke lah
kalo begitu, Kakak akan menjelaskan sedikit tentang sunat sama Putri, wajar kok
jika kamu tidak tahu dan pengen tahu ini, sekarang kamu perhatikan tapi jangan
di pegang ya!, ini adalah sebuah penis, yang terdiri dari buah zakar sebagai
tempat produksi sperma, ini adalah batang penis yang lagi lemas, yang jika
dalam kondisi ereksi akan membesar 3 sampai 5 kali lipat dari ukuran sekarang
dan akan mengeras lebih keras dari tulang, padahal ia sama sekali tidak
bertulang. Ini adalah preputium atau kulup yang menutupi glan atau kepala
penis. Nah sekarang ini adalah glan atau kepala penis (sambil menarik kulup
kepangkal penis), dan yang dipotong itu adalah preputium ini (sambil menarik
kembali kulup sehingga menutup glan), oke sekarang kamu perhatikan aja ya..
yang penting kamu bisa menguasai diri dan tidak nafsu karena melihat penis
ini”, terang dr.Rini kepada Putri. “Ya, Dok” jawab Putri singkat.
“Oke, ambil lagi dua klem itu Yu....”, perintah dr.Rini. Selanjutnya
dr.Rini menjepit ujung kulup Erik dengan dua klem penjepit yang aku berikan
tadi. “Oke Yu.. kamu siap”, kata dr.Rini, “siap Dok”, kata ku lagi. “Rik, siap
ya”, kata dr.Rini kepada Erik. Dengan mengucap “Bismillahirahmannirahim”,
dr.Rini mengiris kulup Erik dari depan ke arah belakang menuju garis yang telah
dibuat sebelumnya. Terlihat kulup Erik sekarang sudah terkoyak, seiring dengan
itu darah pun mulai keluar secara perlahan, namun aku dengan sigap segera
menghapus darah tersebut dengan kasa khusus yang telah steril tentunya. Tampaklah
glan penis Erik di antara koyakan insisi yang dilakukan dr.Rini, walupun baru
sedikit namun sudah terlihat jelas glan tersebut.
Selanjutnya dr.Rini kembali meneruskan insisi ke arah kiri (arah jam 9),
berikutnya berbalik meneruskan insisi ke
arah kanan (arah jam 3), berikutnya insisi dilanjutkan ke bawah sedikit
menyerong ke depan (arah jam 6), “khusus pada bagian bawah preputium ini kita
harus insisi sedikit ke arah depan meninggalkan sedikit kulit preputium
tersebut, hal ini dikarenakan di sini terdapat frenulum yang merupakan salah
satu titik G-spot lelaki dan sekaligus merupakan pengunci dua lapisan preputium
tersebut” kata dr.Rini menjelaskan kepadaku, “Preputium itu dua lapis ya Dok”,
tanyaku kepada dr.Rini. Hal ini memang belum aku pahami karena selama ini aku
hanya menjalankan sesuai perintah saja.
“Ya, sebenarnya kulup itu terdiri dari dua lapisan kulit yang menutupi
kepala penis yang mana keduanya menyatu atau menjadi satu pada bagian ujungnya,
dan saat kita insisi ujung preputium tersebut kedua ujungnya menjadi terlepas
dan harus disatukan kembali dengan cara dijahit, yang selama ini kamu lakukan
saat sirkumsisi. Coba deh kamu lihat pada hasil penis yang kamu sirkum, pasti
akan terlihat warna yang berbeda kontras dibagian bekas sirkum, ya..gak” tegas
dr.Rini lagi. “O.. sekarang aku paham kenapa warna kulit bekas sirkum selalu berbeda
kontras sekali, salah satunya gelap (bagian belakang) dan salah satunya lagi
cerah atau lebih muda (pada bagian depan)”, kataku lagi.
“Ya, itu akan lebih mudah terlihat pada saat penis ereksi, namun akan
tersamarkan jika penis dalam kondisi lemas. Karena pada saat ia ereksi glan
akan melesat sliding ke depan dan membuat preputium meregang secara elastis,
sehingga semua kerutan kulit penis menjadi mulus, namun khusus pada bagian
bawah yang terdapat frenulum ini sengaja disisakan, selain terdapat G-spotnya
lelaki, bagian itu juga berguna bagi perempuan sebagai pengesek dinding vagina
saat hubungan seksual nantinya”, jelas dr.Rini lagi.
Dan kini kulup Erik pun terlepas dari penisnya. Sekarang kepala penis
Erik telah benar-benar terbuka karena kulup sebagai penulupnya telah dipotong
oleh dr.Rini dan secara perlahan darah pun kembali terbit dari luka insisi
tersebut, dengan cepat segera ku hapus
darah tersebut dengan kasa steril. Untuk mengatasi pendarahan kami menjahit luka
insisi tersebut dengan tujuan agar kedua ujung kulup yang baru saja terpotong
kembali menyatu. dr.Rini kembali memeriksa dan memastikan jahitan luka insisi
terpasang dengan baik dan benar agar tidak terjadi lagi pendarahan pasca sunat
ini. Sekarang sang penis sudah terlihat rapi dengan kepalanya yang masih
terlihat baru dan sedikit mengkilat karena baru saja terbuka, yang selama ini
tertutup oleh kulup yang baru saja kami potong.
“ih… penis kamu lucu Rik”, sela Putri yang tiba-tiba berkomentar tentang
hasil sunat yang kami lakukan. “Dok, apa gak sakit tuh kan masih berdarah”, Tanya
Putri kepada dr.Rini, “Tanya Erik dong, kan yang di sunat dia, bukan saya”,
balas dr.Rini. “Ya, sakit gak Rik disunat ?”, Tanya Putri kepada Erik, “Ya,
enggak lah Put, kan tadi udah dibius, jadi Erik gak mengerasa sakit saat
kulupnya saya potong tadi”, jawab dr.Rini lagi. “sekarang tinggal dibalut aja….
Yu selesaikan dengan kamu ya!... yang longgar aja ya Yu… biar gak kejepit kalo
ia ereksi nanti ”, kata dr.Rini kepada ku, “baik Dok”, jawabku singkat. Aku pasang
perban pada penis Erik sesuai dengan
instruksi, aku pun memasangnya dengan sedikit longgar, dengan tujuan agar saat
sang penis Ereksi ia tidak kejepit dengan perban tersebut.
“Ok sudah selesai Dok”, kata ku kepada dr.Rini. Kami mencari tante Dewi
yang tanpa kami sadari tidak ada saat sunat di laksanakan, namun sebelum
beranjak dr.Rini berpesan kepada Erik: “Rik, sebentar lagi sekitar 15 menit
lagi, biusnya akan habis, nah sebelum itu habis sebaiknya kamu minum obat penahan
rasa sakit yang ada dimeja itu ya…trus, usahakan penis jangan terkena air dulu
ya…. Dan yang terpenting jangan berpikiran ngeres ya, ntar penismu ereksi lho,
dan itu bisa bikin sakit bahkan pendarahan lagi”, kata dr.Rini kepada Erik. “Oh
ya, Putri langsung pulang aja ya… nanti penis Erik bisa ereksi lihat kamu, dan
terpenting jaga rahasia ya…”, kata dr.Rini kepada Putri, “Ya Dok”, jawab Putri
sambil tersenyum. “saya akan kembali esok lusa untuk memeriksa hasil sunat ya
Rik”, kata dr.Rini kepada Erik, yang di jawab “Ya, Kak, Terimasih”, oleh Erik.
Kami mendapati tante Dewi sedang berada di ruang keluarga sambil
menonton TV, “Tante Erik sekarang sudah saya sunat, sekarang kami mau permisi
dulu” kata dr.Rini kepada tante Dewi. “Oh sudah selesai ya, maaf ya Tante gak
tega lihat Erik disunat, makanya Tante keluar tadi, lho ada Putri juga ya..
kapan datang”, jawab tante Dewi kepada kami. “Enggak apapa Tan, yang penting
sekarang Erik berhasil kita sunat…, Putri udah ada dari tadi Tan… bahkan ia
melihat sendiri pacarnya kami sunat tadi, dan sekarang saya minta Putri ikut
pulang, biar Erik gak Ereksi ha.ha.ha”, kata dr.Rini lagi
“Ya dech terimakasih dulu ya… salam sama mama ya…” kata tante Dewi
kepada dr.Rini, “Ya Tan, Assalamu’alaikum”, kata kami berbarengan, sambil beranjak
dari rumah tante Dewi.
Di dalam mobil, dr. Rini bertanya tanggapanku mengenai pekerjaan yang
baru saja kami lakukan, “O..kalau penis dewasa beda ya mbak cara insisinya,
kayak yang tadi itu ya… dari depan, terus melingkar ya mbak”, komentarku. “Ya…
sebenarnya bukan hanya untuk penis dewasa aja, tapi cara itu sebenarnya harus
diterapkan terhadap penis yang sudah sempurna”, kata dr.Rini, “emangnya ada
yang gak sempurna ya mbak?” balasku, “bukan gitu… yang dimaksud itu adalah jika
glan sudah benar-benar terlepas atau tidak lengket dengan preputiumnya, dengan
cara ini kemungkinan glan terpotong itu kecil,…. jangan salah, ada lho sirkum
yang mengakibatkan glan ikut terpotong, dan ini jadi kasus mal praktek lho kalo
terjadi”, kata dr.Rini lagi. “O..gitu”,
kataku lagi. “Nah sekarang kamu berani nyirkum lelaki dewasa?”, tanya dr.Rini.
“Ya berani la… kalo ditemani mbak…. takut diperkosa… ha.ha.ha”, kataku sambil
bercanda, kami pun ketawa bersama, tak terasa akupun tiba di mulut gang
kosanku, akupun turun dari mobil dr.Rini. “Yu.. lusa temani mbak lagi ya.. cek
si Erik, takut diperkosa ha.ha.ha”, kata dr.Rini sambil bercanda pula, dan aku
pun menjawab “Oke, sip mbak”.
Esok lusanya, menjelang petang dr.Rini benar-benar menjemputku di tempat
kosan untuk memeriksa hasil sirkum Erik. “Bagaimana kabarmu sore ini Yu…”, sapa
dr.Rini saat aku masuk ke dalam mobilnya, “Baik, mbak” balasku. “untuk
memeriksa penis dewasa sebaiknya di sore seperti ini Yu… karena energinya menurun
di sore seperti ini… tapi ia tetap aja akan ereksi kalau dirangsang,”, jelas
dr.Rini. “Ya mbak”, jawabku. “Makanya kita harus pakai penghalang atau sarung
tangan untuk menyentuh penis tu, ia akan bangun dengan cepat kalau kamu pegang
tanpa sarung tangan, coba aja nanti jika
berani…”, kata dr.Rini lagi, “akh mbak”, kataku malu, dalam hati aku berkata
“Yes!”, sebenarnya aku ingin sekali tahu seberapa keras sih penis itu saat
ereksi penuh. Tiba-tiba “kenapa Yu… kamu pengenya… ha.ha.ha” goda dr.Rini lagi,
“i.. mbak aku jadi malu”, jawabku penuh malu.
“Boleh kok… nanti kamu boleh cuba pengang penis si Erik tanpa sarung
tangan, kamu kan bentar lagi jadi bidan yang pekerjaannya seputar alat kelamin,
vagina dan orang hamil, kan orang bisa hamil itu karena kerjanya si penis, alat
kelamin juga kan tu.., jadi wajar kok jika kamu harus tahu juga semua tentang
penis…, tenang aja mbak dampingi kok…biar gak diperkosa… ha..ha..ha..”, canda
dr.Rini lagi kepadaku. Aku hanya tersenyum malu sambil membuang pandangan dari
dr.Rini.
Kamipun sampai di rumah tante Dewi, “Assalamu’alaikum”, ucap salam kami
bersamaan, “wa’alaikumsalam”, jawab Tante menyambut kami yang sedang ada di
halaman sambil membuka pintu pagar. “Gimana Erik Tan”, kata dr.Rini, “baik-baik
aja tuh”, balas Tante sambil menuntun kami ke kamar Erik yang ada Erik di
dalamnya. “halo Erik, gimana kabarnya, udah gak sakit kan”, sapa dr.Rini kepada
Erik. “eh kakak”, balas Erik sambil memutar adalah duduknya kepada kami berpaling
dari layar komputer. “kakak periksa dulu ya…, duduk aja gak apapa, coba buka
sarungnya ya, biar kaka periksa dang anti perbannya ya…”, kata dr.Rini kepada
Erik, sementara itu tante Dewi pamit keluar dan membiarkan kami berada di dalam
kamar untuk memeriksa anaknya. Erik pun
tanpa sungkan langsung melepas sarung yang dikenakan dan memperlihatkan
penisnya yang kini masih lemas dan terbalut perban yang mulai kusam. “Yu, kamu
lepaskan perbannya dulu ya”, perintah dr Rini kepadaku, akupun langsung
mendekat ke area selangkangan Erik, sementara saat aku membasahi tanganku dengan
cairan steril, tiba-tiba dalam hitungan menurutku kurang dari 5 detik, penis
Erik perlahan membesar dan tegak dengan gagahnya, yang proses pembesaran
tersebut untuk pertama kalinya aku lihat secara live dengan mata kepalaku
sendiri. “Rik, kamu nafsu ya… tadi kakak lupa nyuruh kamu lihat ke atas.., oke
sekarang kamu lihat ke atas aja ya.. gak usah lihat Ayu ya..”, kata dr Rini
kepada Erik. “Ya, kak” jawab Erik singkat.
Sementara, aku dengan perlahan berusaha menbuka perban yang terpasang
menutupi luka insisi kemarin. “Kalo tegang gini, sakit gak Rik?”, Tanya dr Rini
kepada Erik, “dikit, kak”, jawab Erik lagi dengan singkat. Kini perban pun
telah berhasil aku lepaskan, dan terlihat bekas luka insisi yang mulai
mengering, pengen rasanya aku genggam penis ini, untuk mengetahui seberapa
keras sih penis yang ereksi penuh ini, apa lagi penis Erik dengan pongahnya menghadap
ke atas seolah menatap dan menantangku. “coba kakak lihat hasilnya…, Ayu kamu
disitu aja… nanti kamu juga yang pasang perbannya… Bagus Rik, udah kering juga
tuh… “, kata dr.Rini lagi, aku memberi kesempatan dr Rini untuk melihat
memeriksa penis Erik. “Yu, coba kamu pegang, dan coba lihat hasil jahitan yang
ada di sebelah itu”, kata dr Rini kepadaku, “Ya, dok”, kataku singkat. Dan dengan
perlahan aku pegang penis Erik dan coba membalikkannya agar dapat dilihat oleh
dr Rini, dan ternyata penisnya sangat keras, dan saking kerasnya penis tersebut
tidak dapat aku putar balikkan ke arah dr Rini. “caranya begini Yu…”, kata dr
Rini sambil memperagakan cara pegang penis tersebut, ha.. digenggam… kataku
dalam hati. Aku pun menggenggam penis Erik yang sangat keras itu dengan sedikit
erat/kuat untuk memutar penis tersebut, dan tiba-tiba terasa hentakkan keras
pada penis Erik yang sedang aku genggam tersebut dan tersemburlah cairan yang
keluar dari penis tersebut yang ternyata adalah sperma dan mengenai dagu dan
leherku. “Erik, kamu ejakulasi ya Rik”, kata dr.Rini seolah memarahinya, “Maaf
kak aku gak tahan lagi”, jawab Erik meminta maaf. “Yu, kamu gak apapa ya Yu..”,
kata dr. Rini sambil mencoba membersihkan semburan sperma yang mengenai dagu
dan leherku. Sambil membersihkan cairan tersebut dari leherku, aku lihat penis
Erik sekarang udah terkulai menjuntai ke lantai dengan glan masih terdapat sisa
sperma.
“Rik, kamu cuci dulu tu penis kamu… yang bersih ya…”, perintah dr.Rini
kepada Erik, “Ya kak…, kak Ayu aku minta maaf ya”, kata Erik meminta maaf.
Sementara Erik pergi ke kamar mandi untuk membersihkan penisnya, aku
membersihkan sisa sperma yang ternyata lengket di leher dan daguku dengan tisu
basah yang selalu aku bawa dalam tasku. “gimana Yu…”, kata dr.Rini kepadaku,
“gimana apa mbak.. ini lengket semua”, balasku. “Sini, mbak bantu bersihin… ya
inilah sperma, ini bibit manusia lho, lengket itu karena ada cairan semennya…
tapi gak apapa sekarang kamu jadi tahu kan”, kata dr Rini sambil membantuku
membersihkan sempotan cairan Erik. “Untung gak kena bajumu Yu… ya udah nanti
penis Erik langsung kamu olesi salap aja ya di luka insisinya dan langsung
diperban ya”, perintah dr Rini kepadaku, “Baik mbak”, balasku singkat
Tidak berapa lama kemudian Erik pun kembali ke hadapan kami, “Oke Rik,
kamu lihat ke atas lagi ya, dan jangan ngeres lagi, kasihan tu sama Ayu,
lehernya lengket oleh spermamu… tuh kan kamu udah ereksi lagi… cepat sekali
bangunnya… ya emang begini semakin muda usia seseorang lelaki semakin pendek
jarak antar ereksinya, coba aja kalo kamu udah 40 tahun nanti, jarak antar
ereksinya bisa 1 jam atau bahkan lebih” kata dr.Rini “Ya kak, sekali lagi aku
minta maaf”, kata Erik menyesali keaadan
dr Rini memeriksa luka insisi pada penis Erik, “Oke, masih bagus kok,
untung jahitannya gak kebuka Rik, kalo tadi saat kamu ejakulasi sempat kebuka,
ya harus di jahit lagi… ini Yu kamu
selesaikan”, kata dr Rini sambil menyerahkan penis Erik kepadaku
Akupun segera mengolesi luka insisi dengan salap pengering luka pada
penis Erik yang masih tegak dengan gagah, kini aku kapok untuk memegangnya,
takut kalo kesemprot lagi yang selanjutnya penis tersebut aku perban dengan
rapi lagi.
Setelah selesai kami permisi pulang, dan sebelum pulang Tante Dewi
menyerahkan sebuah amplop kepada dr Rini, walaupun sempat menolak akhirnya
diterima juga oleh dr Rini.
Di dalam mobil, “Yu, kita makan dulu yuk..”, kata dr.Rini, “Ayo…, tapi
leherku masih lengket lho mbak”, balasku. “Gak apapa nanti kamu cuci aja dengan
sabun, kalo gitu kita ke rumah makan sunda aja ya… yang pasti ada sabunnya”,
kata dr.Rini lagi.
“Sekarang gimana?”, goda dr.Rini kepadaku, “gimana apanya mbak”,
jawabku. “Gimana rasanya pegang penis ereksi ha.ha.ha”, goda dr.Rini lagi.
“akh.. mbak”, jawabku malu. “Terbuka aja Yu, gak usah malu, kan kamu udah
jalani, sekarang mbak tanya gimana komentar kamu rasanya pegang penis ereks…i,
itu aja gak bisa jawab he.he.he”, canda dr Rini. “Ya udah aku jawab…ternyata
penis itu keras sekali yang mbak, tapi kok bisa gitu ya”, jawabku mulai
terpancing.
“Ya emang harus gitu, fungsi penis itu cuma 2, yaitu pertama untuk
kencing, kedua untuk penetrasi ke vagina… nah untuk bisa penetrasi ke vagina ia
harus ereksi 100% sempurna, kalo enggak ia tak akan bisa masuk dan terbenam ke
vagina, tapi bisa juga kalo 90% up tapi tidak 90% down”, jelas dr Rini. “90% up
dan 90% down itu apa mbak?”, tanyaku penasaran.
“90% up maksudnya ereksi miningkat dari 90% menuju 100% jadi pada saat
penis ereksi sempurnanya, ia sudah terbenam 100% ke dalam vagina dan
menyemburkan sperma seperti tadi itu di dalam sana, sementara itu 90% down maksudnya
ereksi menurun dari 90% ke 0% jadi walaupun kekerasan penis masih 90% ia tidak
akan bisa masuk menembus vagina, malah ia akan membengkok patah ke kiri atau ke
kanan karena kehilangan kekuatannya, kalo udah begitu bagaimana penis bisa
menyemprotkan spermanya, tapi sperma masih bisa keluar kok tapi cuma meleleh di
luar vagina, kalo sudah begitu gimana coba…”, terang dr Rini lagi. “O… begitu
ya…” jawabku singkat, dan tak terasa kamipun sampai di rumah makan yang kami
maksud. Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan cairan Erik tadi,
setelah aku periksa ternya ada beberapa cairan yang mengenai bra ku karena
cairan tersebut meleleh. Setelah semuanya aku rasa besih aku pun data
menghampiri dr Rini yang sebagian hidangannya sudah tersaji. “Minum dulu Yu…
gimana sekarang sudah bersih, sudah gak lengket lagi kan”, kata dr.Rini “Ya.
Mbak, udah kok”, balasku,
“Sekarang masih ada yang ingin kamu tahu tentang penis?”, tantang
dr.Rini. “Ada mbak, kalo lagi gak ereksi penis itu seberapa besar mbak… kok
kalo kita lihat pria seperti yang lagi jalan itu kok gak keliatan kalo mereka
punya penis, bagai mana mereka menyembunyikannya, kan penis itu letaknya di
depan sedikit ke atas, beda dengan kita perempuan kalau vagina letaknya di
bawah, kalau penis letaknya di bawah juga sama dengan vagina, pasti para lelaki
akan repot kejepit terus, belum lagi kalo duduk pasti kegencet pula tuh barang
ha.ha.ha”, kataku pula
“gini Yu. Letak penis itu seperti yang kamu tahu dan lihat, lhat aja
punya Erik tuh, tidak sama dengan punya perempuan yang berada di bagian bawah,
ia berada di depan atas sehingga tidak akan kejepit oleh paha, dan tidak akan
kegencet pula saat mereka duduk, nah… soal ukuran saat gak ereksi, sesungguhnya
penis itu sangat kecil, kalo mitos sih sebesar ibu jari tangannya, tapi itu gak
100% benar, mendekati mungkin ya, jadi sekarang kamu bisa mengira-ngira ukuran
penis mas-mas pelayan yang lagi jalan kesini itu ha.ha.ha”, jelas dr.Rini
diiringi tawa kami berdua seiring tersajinya semua hidangan yang diantar oleh
pelayan lelaki yang kami ketawai tadi. “Kalau masalah bagaimana mereka
meletakkan penis di dalam celananya…, itu kamu pikir aja sendiri, sekarang kita
makan dulu, mbak udah lapar nih”, kata dr.Rini sambil mengajakku mulai
bersantap. “Oke, nanti aku pikir deh mbak, tapi kalo gak kepikir boleh tanya
lagi ya mbak”, kataku lagi, “Boleh”,
jawab dr.Rini sambil berkunyah…
Setelah perut kami terisi, kami meneruskan bahasan yang tadi tertunda,
“Bagaimana Yu.. sudah kepikir”, kata dr
Rini, “belum, mbak”, kataku pula “oke lah kalau begitu, teruslah berpikir. Nah
sekarang mbak mau tanya ke kamu, apa yang bisa kami tarik pelajaran dari pekerjaan
kali ini”, kata dr.Rini seakan mengujiku. “Wah aku di uji nih”, kataku pula
“Lha iya la, semua yang kamu kerjakan dan semua yang kita bahas itu adalah ilmu
pengetahuan yang tidak bisa kamu dapatkan begitu saja kalau tidak terjun
praktik langsung ke lapangan lho..” tegas dr.Rini. Aku pun menjawab tuntas
pertanyaan dr.Rini tersebut dengan ulasan dan alasan yang telah ia ajarkan
tentunya.
Akhirnya aku diantar pulang ke kosanku dan sebelum meninggalkanku,
dr.Rini memberiku amplop yang katanya adalah bagi hasil dari pekerjaan ini.
Beberapa bulan kemudian akupun berhasil menyelesaikan pendidikan
kebidananku dengan gelar Am.Keb. dan hingga kini aku bekerja sebagai tenaga
honor di salah satu rumah sakit di kotaku, namun aku tidak meninggalkan
keahlianku yang lain yaitu sebagai juru sunat, walaupun pekerjaan juru sunat
lakunya saat musim liburan tapi tidak mengurung niatku untuk tetap eksis di
bidang ini yang banyak digeluti lelaki.
Saat libur panjang kenaikan kelas (semester genap) adalah masa panen
besar bagiku karena pada saat itu banyak anak lelaki yang bersunat, bahkan aku
sempat menyelesaikan 45 orang anak yang berhasil aku potong kulupnya dengan
pendapatan total kotor Rp.15.750.000,- (Rp.350.000 X 45 orang). Sementara itu
saat liburan akhir tahun (semester ganjil) pendapatan akan menurun menjadi
separohnya, karena akan yang disunat saat libur semester ganjil juga sedikit.
Namun diluar itu (bukan liburan sekolah) biasanya pasienku 1 atau 2 atau bahkan
tidak ada sama sekali, palingan yang menjadi pasienku adalah anak-anak yang
kulupnya kejepit resleting, mualaf atau calon mualaf, atau sunat dadakan aja
yang pendapatannya…. Hitung aja sendiri deh, tidak menggiurkan memang. Tapi aku
mencintai pekerjaan ini, aku suka kulup, makanya aku potong semua kulup yang
datang kepadaku ha.ha.ha.
Ini
hanyalah cerita dan Kenangan Pengalaman Pekerjaanku sebagai Asisten Sirkumsisi
hingga menjadi Juru Sunat, semua nama yang ada dalam cerita ini untuk menjaga
privasi adalah bukan nama sebenarnya,
Ceritanya asli ya mbak?
BalasHapusEmang cewe bisa nyunat yah
BalasHapusLokasi di kota apa ? ada kontak ? aku juga mau disunat dong, dijadikan bahan latihan juga tidak apa2.
BalasHapusAku 30th, ingin disunat tapi sama wanita yang bisa dipanggil kerumah, malu kalau harus ke klinik sunat, biaya tidak masalah berapapun.
Mirip dengan pengalamanku, banyak yg meragukan kalo cewek bisa nyunat
BalasHapusBetul,,padahal sudah umum kok Perempuan bisa nyunat!..malah hasilnya lebih bagus!. Saya sendiri dan beberapa teman Muslimah saya juga merasa bangga dan biasa kok buat sunat/khitan laki2, termasuk para Muallaf., kami sudah kenyang dengan berbagai pengalaman..
Hapus